“Tidak semua ikan bisa dipancing dan tidak semua ikan bisa dijaring”. Kalimat ini muncul, setelah terlintas dalam benak pikiran Yusuf (34) warga Desa Pangkalniur Kecamatan Riausilip Kabupaten Bangka, sekitar tahun 2013 lalu.Yang membuat Senapan Ikan trisula menggunakan barang bekas.
Genap tiga bulan, akhirnya Yusuf menemukan inspirasi, sebagai jawaban dari kalimat yang ia cetuskan sendiri. Dia terinspirasi untuk membuat senapan ikan secara tradisional, peralatannya pun mayoritas harus memanfaatkan barang bekas. Karena kalau harus beli, Yusuf terkendala modal.
Senapan ikan yang akan dibuatnya yakni tiga mata panah (menyerupai trisula). Tapi gagang trisulanya, bukanlah sejenis tongkat tombak, melainkan pipa besi anti karat yang lebih pendek dari ukuran panjangnya tombak. Tiga mata trisula itu kalau untuk menangkap ikan, bukan dengan cara ditombakkan. Tapi harus menggunakan peralatan lainnya, yakni dengan sistem tembak, setelah pelatuknya ditarik.
Tapi daya yang digunakan untuk menembakkan mata panah yang bergagang besi anti karat panjang sekitar 70 sentimeter itu. Bukanlah pompa seperti halnya senapan angin atau senapan yang menggunakan kekuatan tendangan oksigen murni, melainkan karet (seperti karet ban).
Yusuf menuangkan inspirasinya dengan coretan di atas kertas lebih dulu. Coret-coretan itu akhirnya membentuk senapan ikan bersayap dan tanpa sayap. Dari gambar itulah, Yusuf mulai memikirkan alat-alat atau komponen yang diperlukan, sehingga nanti bisa dirangkai menjadi senapan bersayap dan tanpa sayap.
Ia mulai mengumpulkan barang-barang bekas, mulai dari pipa besi kecil anti karat, besi untuk bahan pelatuk, tutup botol parfum, karet ban, handle rem tangan atau handle kopling sepeda motor, tali pancing, kili-kili, per, pengait karet hingga barang bekas yang bisa dijadikan pengunci manual antara pelatuk dan gagang tiga mata tembak.
Masih banyak komponen lainnya yang diperlukan, tapi harus mencari di pasaran, karena tidak bisa ditemukan di pengumpul barang bekas. Setelah barang-barang bekas terkumpul, Yusuf mulai menggabungkan dan merangkai seluruh komponen yang diperlukan, sehingga bisa membentuk senapan tembak bersayap dan tanpa sayap.
Tanpa belajar dan tanpa berguru, petani karet ini, terus mencoba mengaitkan, menggabungakan dan mengunci setiap komponen alat, dan menjadi senapan ikan “rakitan tangan bukan rakitan pabrik atau pabrikan” dengan gagang kayu nangka.
Senapan Ikan TRISULA dari Barang Bekas Rongsokan Karya Yusuf
source : mancingmania.com
